| optimized for Safari | Last update:oct 2013 |     © 2006 Melati SURYODARMO










Kashya-kashya muttiku
Der Sekundentraum

Bubble Jam

Exergie-butter dance

Lullaby for the Ancestors

Love me Tender

Why let the chicken run?

Risk in Plurality


The Promise

Ale Lino

The Ballad of Treasures

Boundaries that lie

The Black Ball

The Komodo FIles
Deformed Ethic of a Relationship 2.0
Deformed Ethic of a Relationship 1.0

The Fermata

The Visible Undone Behaviour


Cruise Control

Height of Limerence

My FIngers are the Triggers

I Love You

Perception of Patterns in Timeless Influence

The Seed

Silent Trip




Sonnete number 25

The dog barked at the back yard, while the eagle flew after the dark. And I....

When the box was opened, the fog disappeared. Alienation of the stone

I put a spell on you

Excused me, Sir!
Passionate Pilgrim

Exergie - butter dance extended

Feather fell down from the silence

Almost there

Feathers fall from nowhere

Kein Spiel
Conversation with the Black


Beethoven Sonata Marathon

Mama never bought me a pair of jeans trousers

John Cage_Song Books
I'm a ghost in my own house
Sweet dreams sweet
The Dust



Memorabilia featuring Fitri Setyaningsih and Djarot Budi Darsono


memorabilia_1 Performed at Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Indonesia, 2008                      Photo: Jauhari

This work is based on the intension to find the trails (sequences of marks left by somebody or something moving along the surface) of existing life or static objects or persons who are connected to my life journey.
It is an intension to activating personal process which seem to be frozen inside the memory container in my body. It is also an intension to research or find forthcoming possibilities to face the future. A challenge to be in the presence is to lose the past and being untied by the future. But pictures which remain in our memories are mostly still alive and influencing our presence.I am interested to include socio-psychological methods used for analyzing someone’s life resistance, through confronting my physical and conceptual presence with other persons, other life objects, and static objects.

In Memorabilia, I invited two artists, Fitri Setyaningsih (choreographer) and Djarot Budi Darsono (actor, choreographer, theatre director) to share their unveiled memories. The process of creating the work was depending on the memories they shared. We spent three months to exchange, discuss, and share our experiences regarding the most inevitable memories.

All objects and actions presented in this performance were realted to our personal memorabilias. We use music, coffee, rooster, books, mirrors, shoes, stage, and video projection.

memorabilia_2Performed at Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Indonesia, 2008                      Photo: Jauhari


Bermula dari sebuah proses pengumpulan memori-memori ingatan, yang tersimpan dalam tubuh, yang tersimpan dalam darah dan otak kecil, bawah sadar, saya melihat ada sebuah pembentukan jaringan pola-pola tingkah laku yang mungkin adalah hasil dari pengumpulan-pengumpulan alami.
Pola-pola tingkah laku ini menjadi tajam dan jelas bentuknya ketika tubuh dikonfrontasikan dengan situasi yang mendorong aktifnya sebuah fungsi yang sifatnya melekat dalam watak.
Dari perjalanan hidup selama ini, terpisah secara geografis dari tanah asal, saya merasa masih belum selesai dengan masa lalu yang tertinggalkan. Masa-masa yang belum selesai dan mungkin tidak akan pernah selesai. Meninggalkan jejaknya, dalam tubuh dan dalam tingkah laku.
Rasa keinginan untuk mencari kembali, menggali lubang-lubang yang tak terkubur lagi, menelusuri jejak-jejak yang tertinggalkan menjadi semakin kuat.
Namun, bagaimana mungkin kita bisa kembali ke masa lalu?
Saya tersadarkan sejenak, bahwa nafasku adalah sebuah kencan yang kubuat dengan hidup. Tubuhku ini hanya pinjaman. Ketika otot-ototku bergerak, tergesek oleh nafas, memori-memori ingatan menjadi bermunculan, dan gumpalan daging ini, menampakkan keberadaannya. Di tubuhku ada peta-peta. Di dalam peta-peta itu ada arus yang mengalir, menyeret kenangan-kenangan masa lalu, mengonggokkannya di sela-sela rongga nafas dan tikungan-tikungan pembulu nadi.
Sebenarnya, apa arti tubuh ini tanpa tubuh yang lain? Apa arti nafasku ini tanpa ada nafasmu? Keberadaanmu membuat keberadaaku menjadi berarti. Dan masa lalu tidak pernah selesai karena hari ini masih ada.
Memorabilia adalah bagian kecil dari sebuah proses, untuk berhenti sejenak dan mencoba untuk mengingat, serta mengamati, gumpalan-gumpalan memori ingatan yang membekas dan masih ada di kedalaman tubuh.
Memorabilia mengajak keterlibatan pelakunya untuk melepaskan identitasnya sejenak dan membaca kembali memori-memori masa lalu sebagai sebuah proses pembentukan. Akhirnya, memorabilia, tidak akan pernah berhenti, karena besok akan menjadi hari ini dan sekarang menjadi masa lalu.


Duration: 3 hours

Performed at the Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Indonesia  August 8 + 9, 2008

Featuring: Fitri Setyaningsih and Djarot Budi Darsono

memorabilia_3                     Performed at Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Indonesia, 2008         Photo: Afrizal Malna





memorabilia_9Performed at Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Indonesia, 2008                      Photo: Jauhari




memorabilia_13Performed at Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Indonesia, 2008                      Photo: Afrizal Malna